Rabu, 23 Januari 2013

Meningkatkan Keefektifan Hipnoterapi Berbasis Sugesti

Meningkatkan Keefektifan Hipnoterapi Berbasis Sugesti

Dalam dunia hipnoterapi kita mengenal dua mazhab atau aliran hipnoterapi berdasar teknik yang digunakan. Ada mazhab yang berasal dari pantai timur (east coast) dan pantai barat (west coast) Amerika.

Perbedaan mencolok dari kedua mazhab ini tampak dalam teknik yang digunakan untuk membantu klien mengatasi masalahnya. Mazhab dari pantai timur lebih menekankan terapi berbasis sugesti atau yang kita kenal dengan suggestive therapy. Sedangkan mazhab dari pantai barat lebih menekankan pada pentingnya menemukan akar atau sumber masalah yang mendasari simtom. Teknik ini kita kenal dengan hypnoanalysis. Masing-masing mazhab punya alasan dan pemikiran yang sahih mengapa mereka menggunakan teknik-teknik itu.

Artikel ini khusus membahas cara untuk lebih meningkatkan keefektifan terapi berbasis sugesti (suggestive therapy) dengan memahami kendala atau hambatan yang seringkali ditemui atau tidak disadari oleh hipnoterapis.

Berikut saya berikan contoh kasus yang pernah ditangani oleh seorang dokter yang juga hipnoterapis. Mari kita pelajari bersama. Kisahnya sebagai berikut:

Seorang klien wanita berusia 34 tahun datang ke terapis dengan keluhan kulit yang merah dan gatal. Kondisi kulitnya menjadi semakin parah, lecet dan berdarah, karena sering digaruk. Selama beberapa tahun ia pernah mengalami kondisi ini beberapa kali.

Di awal terapi, terapis membimbing klien masuk ke kondisi light hypnosis dan memberikan sugesti perasaan tenang, dan kulitnya terasa nyaman. Dua hari kemudian klien melaporkan bahwa kondisinya justru menjadi semakin parah. Terapis selanjutnya memberikan sugesti yang sama dengan tujuan memperkuat sugesti sebelumnya. Dan dua hari kemudian kondisinya justru menjadi semakin parah.

Kali ini terapis mengubah strategi dengan memberikan sugesti agar klien menghentikan gerakan lengan yang bergerak berulang kali menggaruk kulitnya yang terasa gatal. Klien menerima dan menjalankan sugesti ini. Ia berhenti menggaruk.

Namun beberapa hari kemudian ia kembali menggaruk kulitnya dan justru menjadi semakin parah. Setelah dilakukan wawancara mendalam akhirnya diketahui bahwa sakit kulit adalah strateginya untuk mendapatkan perhatian dari suaminya.

Dengan demikian sugesti yang saya berikan untuk menghentikan sakit kulitnya dipandang sebagai ancaman yang merugikan. Dan untuk itu pikiran bawah sadar klien melawan ancaman ini.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari cerita di atas?

Kisah ini memberikan gambaran yang jelas mengenai kekurang-cermatan dan ketidak-hati-hatian terapis. Ia terburu-buru melakukan terapi berbasis sugesti tanpa didahului dengan investigasi mendalam dan menyeluruh terhadap psikodimamika kasus, walau tampaknya kasus kulit gatal ini adalah kasus yang mudah atau sepele.

Memang, dalam banyak kejadian kendala terapi berbasis sugesti sering disebabkan oleh terapis yang kurang cermat dalam melakukan investigasi dan juga kurang menyiapkan (pikiran bawah sadar) klien.

Salah satu sugesti yang sangat terkenal yang berasal dari Dr. Emile Coue adalah "Everyday in everything, I am feeling better and better" atau "Setiap hari, dalam segala hal, perasaanku selalu membaik dan semakin membaik."

Afirmasi ini sangat terkenal dan memang sangat luar biasa. Pasien yang berobat di klinik Dr. Coue, yang menggunakan afirmasi ini, sembuh atau kondisinya membaik lima kali lebih cepat dari pasien di rumah sakit atau klinik lainnya di seantero Eropa.

Bertahun-tahun lalu saya juga sering menggunakan kalimat sugesti ini. Biasanya saya ucapkan saat mau tidur, saat baru bangun tidur, dan saat sedang melakukan relaksasi pikiran. Namun herannya saya belum atau tidak merasakan perubahan apapun. Saya berpikir sepertinya ada yang salah dengan saya. Atau mungkin blocking saya yang terlalu kuat sehingga menolak sugesti positif ini. Saya akhirnya memutuskan untuk berhenti mengucapkan afirmasi ini.

Sekian tahun kemudian, saat mendalami hipnoterapi, saya akhirnya menemukan mengapa sugesti ini tidak efektif, setidaknya untuk saya.

Lalu, apa yang membedakan kondisi yang berhasil dicapai pasien Dr. Coue dan saya, yang menggunakan afirmasi yang sama persis? Atau mungkin juga Anda? Mengapa pasien Dr. Coue bisa begitu bagus hasilnya sedangkan saya tidak?

Cukup lama saya bingung. Setelah cukup lama mencari dari berbagai sumber dan literatur akhirnya saya menemukan jawabannya. Ternyata Dr. Coue tidak serta merta memberikan sugesti "Everyday in everything, I am feeling better and better" kepada pasiennya. Beliau melakukan prakondisi pikiran dan kesiapan pasiennya sebelum memberi sugesti atau afirmasi.

Setiap pasien yang diberi sugesti diminta untuk berkunjung ke klinik tempat praktiknya dan bertemu dengan beberapa pasien yang sudah sembuh. Dr. Coue dengan cerdik mengatur sehingga dalam pertemuan ini terjadi diskusi antara pasien baru, yang masih sakit, dan pasien lama yang sudah sembuh.

Dari diskusi ini pasien baru terpengaruh dan percaya bahwa ia juga bisa sembuh. Barulah setelah ini, dan hanya setelah pasien baru ini sudah percaya bahwa ia juga bisa sembuh, Dr. Coue memberikan sugesti "Everyday in everything, I am feeling better and better" dan meminta si pasien barunya mengulang membaca sugesti ini beberapa kai dalam satu hari.

Hasilnya? Sudah tentu kondisi pasiennya semakin hari semakin baik seperti yang diharapkan.

Dalam melakukan terapi berbasis sugesti, terapis perlu memantau atau mendapat laporan mengenai perkembangan klien pascaterapi. Biasanya laporan ini disampaikan dalam waktu maksimal satu minggu. Setiap perubahan, baik positif maupun negatif, atau sama sekali tidak ada perubahan, digunakan sebagai landasan pijak untuk menyusun sugesti berikutnya.

Perubahan positif yang terjadi mengikuti salah satu dari empat pola berikut:

1. Klien mengalami perubahan signifikan langsung setelah selesai terapi.

2. Klien mengalami perubahan yang bersifat gradual atau inkremental setelah sesi terapi.

3. Klien mengalami perubahan yang bersifat gradual atau inkremental dan setelah beberapa saat terjadi perubahan yang signifikan.

4. Klien tidak mengalami perubahan. Namun setelah beberapa saat klien mengalami perubahan mengikuti salah satu dari tiga pola di atas.

Bagaimana bila klien sama sekali tidak mengalami perubahan?


Berarti ada resistensi dari pikiran bawah sadar. Resistensi ini bisa terjadi dengan dua kondisi. Pertama, resistensi tanpa diikuti perasaan tidak nyaman baik di tubuh fisik dan atau emosi. Dan kedua, resistensi yang diikuti dengan munculnya perasaan tidak nyaman baik secara emosi dan atau secara fisik.

Bila terjadi resistensi tanpa diikuti perasaan tidak nyaman maka dapat dilakukan dua hal. Pertama, klien melanjutkan sugesti yang telah diberikan. Kedua, terapis mengubah semantik yang digunakan dalam sugesti, namun tetap dengan tujuan yang sama. Klien belum berubah karena sugesti positif yang diberikan belum mencapai momentum untuk mulai mewujudkan perubahan dalam diri klien.

Untuk resistensi yang diikuti dengan munculnya perasaan tidak nyaman baik secara emosi dan atau secara fisik maka terapis harus bijaksana dan tanggap dengan tidak meneruskan sugestinya. Dalam hal ini terapis perlu segera menggunakan sinyal rasa tidak nyaman ini sebagai jembatan untuk masuk ke dalam pikiran bawah sadar klien, menemukan sumber resistensi dan mengatasi resistensi ini. Barulah setelah ini sugesti yang diberikan bisa bekerja dengan baik.

Rasa tidak nyaman, biasanya dalam bentuk kecemasan, muncul karena terjadi konflik antara Ego Personality (baca: Program) yang berusaha mempertahankan status quo "melawan" Ego Personality yang mau mengeksekusi sugesti yang berasal dari operator. Semakin intens konflik yang terjadi maka akan semakin intens perasaan tidak nyaman.

Salah satu faktor penentu keefektifan sugesti, selain semantik, adalah kedalaman rileksasi pikiran atau trance. Kedalaman ini berhubungan erat dengan keaktifan critical factor yang berfungsi sebagai filter mental dalam  menyaring berbagai informasi yang akan masuk ke pikiran bawah sadar, dan sudah tentu dalam hal ini termasuk sugesti. Untuk memudahkan mengingat, gunakan aturan ini: semakin rileks pikiran maka semakin besar kemungkinan sugesti diterima tanpa dikritisi dan dijalankan.

Jadi, sugesti yang masuk ke pikiran bawah sadar untuk bisa dilaksanakan sebenarnya melewati tiga tahap. Pertama, sugesti ini harus bisa melewati critical factor. Untuk inilah kita membutuhkan kondisi hipnosis. Semakin dalam kondisi hipnosis maka semakin lemah critical factor. Kedua, sugesti harus bisa melewati empat filter yang ada di pikiran bawah sadar. Dan ketiga, sugesti ini tidak mendapat penolakan dari program pikiran yang sudah terlebih dulu ada di pikiran bawah sadar.

Bagaimana bila ternyata ada penolakan dari pikiran bawah sadar dan terapis tidak punya kecakapan untuk mencari dan menemukan sumber penolakan?

Ada cara lain yang juga sangat efektif. Setiap program pikiran punya "power" atau kekuatan. Semakin kuat suatu program maka semakin besar resistensi yang ia akibatkan. Berpedoman pada pemahaman ini maka kita dapat mengurangi atau melemahkan kekuatan program pikiran yang menolak sugesti yang kita berikan.

Caranya? Kita bisa menggunakan tehnik EFT atau Emotional Freedom Technique.

Mengenal Aura dan Teknologinya

Mengenal Aura dan Teknologinya

Setiap makhluk hidup memiliki medan energi di sekitar dirinya. Secara sederhana saja hal ini dibuktikan, misalnya, saat bertemu dengan seseorang yang belum dikenal sekali pun, sudah dapat dirasakan rasa senang atau tidak senang. Ini menggambarkan adanya interaksi aura atau medan energi antara orang dengan orang lain.
Penyelidikan mengenai aura manusia telah dimulai sejak tahun 1935 ketika seorang Profesor Rusia, S. Kirlian mengembangkan suatu alat fotografi bertegangan tinggi untuk melihat medan energi di tangan dan kaki manusia. Teknologi itu kemudian dikenal dengan nama Fotografi Kirlian.
Sekitar tahun 1985, beberapa ahli riset menemukan teknologi baru yang dikenal dengan Fotografi Aura. Teknologi ini menggunakan sensor biofeedback pada kedua tangan dan mengirimnya ke kamera kemudian mencetaknya dalam bentuk foto polaroid. Dari teknologi ini, dapat dilihat aura diri sendiri secara statis yang tercetak dalam lembaran foto.
Perkembangan teknologi aura ini kian hari kian menarik sejak ditemukannya Computerized Multimedia Biofeedback System oleh seorang periset asal Jerman bernama Fisslinger pada tahun 1998. Dengan menggunakan komputer tersebut, dapat dilihat secara langsung dan dinamis aura seseorang pada layar monitor. Computerized Multimedia Biofeedback System, ini diberi nama Aura Video Station. Teknologi terbaru ini menggunakan beberapa pengetahuan untuk menunjangnya, seperti teknologi komputer, biofeedback, pengetahuan tentang color therapy dan pengobatan dengan vibrasi.
Dengan menggunakan Aura Video Station dapat dikenali diri seseorang yang sesungguhnya. Yaitu: - Mengetahui level stres dan relaksasi. - Kondisi pikiran dan badan. - Level energi di badan. - Dominasi Yin-Yang. - Grafik analisa pikiran, badan dan jiwa (mind-body-spirit). - Kondisi esmosi diri. - Dominasi energi di bagian kepala dan jantung. - Dilengkapi analisa Aura sebanyak 14 lembar.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Fisslinger, terdapat 12 jenis warna aura:
Merah Tua (Deep Red). Orang dengan warna dasar ini memiliki beberapa karakteristik umum, yaitu: kekuatan fisiknya prima, pekerja keras, orientasi ke aksi, realitas, vitalitas tinggi, sangat membumi, kondisi overaktif, hawa nafsu rendah, metrealisme, stres.
Merah (Red). Orang dengan warna dasar merah memiliki karakteristik umum, yaitu: Energik, kompetitif, pemimpin, pemenang, keberanian, keinginan yang kuat, seksi, berjiwa wiraswasta, penuh kegembiraan (excitement), bergerak di bidang promosi.
Oranye (Orange). Orang dengan aura dasar ini memiliki beberapa karakteristik umum, yaitu: Produktif, positif, petualang, kreatif dan ekspressif, menyukai tantangan, kegembiraan, kesenangan, orientasi bisnis.
Kuning Kecoklat-coklatan (Yellow Brown). Orang dengan aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu : Teliti, intelektual, logis, detail oriented, jujur, total, kukuh dalam berpikir dan beraksi, berkaitan dengan ilmu pengetahuan, keamanan dan struktural.
Kuning (Yellow). Orang dengan aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu : Penuh kehangatan, optimisme, kreatif, fun (kegembiraan), murah hati, senang mengebut, cuek (easy going), senang belajar, kecerdasan. Namun jika kecerdasan itu sudah untuk menipu aura menjadi kuning keruh.
Hijau (Green). Orang dengan aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu : Sosial, dekat dengan alam, menyukai hewan piaraan, harmonis, guru, senang berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, penjamu yang baik. Pada umumnya, orang-orang dengan aura dasar hijau (dominan) adalah orang-orang yang bergerak di bidang pelayanan.
Hijau Gelap (Deep Green). Orang dengan Aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu: Berorientasi pada hasil, kekayaan, matreal, komunikatif, pemimpin yang kaya, penuh tanggung jawab, pengelola yang baik, perencanaan yang ambisius, keinginan dan ambisi yang kuat, pola pikir yang cepat.
Biru (Blue). Orang dengan aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu: Sensitif, penolong, penuh kasih sayang dan perhatian, loyal, penuh kedamaian, keinginan untuk membantu orang lain, orang yang senang memberikan pelayanan dan perhatian pada orang lain.
Biru Tua (Indigo). Orang dengan aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu : Penuh kejelasan, tenang, memiliki perasaan yang dalam, penuh kasih, pencari kebenaran, introvert, artistik, memiliki nilai-nilai yang mendalam dan autentik.
Ungu (Violet). Orang dengan aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu : Intuitif, artistik, idealistik, magis, sensual, theorist, futuristik, karismatik, memiliki visi ke depan, tidak kompromis, penuh kemungkinan dan penemu yang inovatif.
Merah Muda/Pink (Lavender). Orang dengan aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu: Penuh imajinasi, mistikal, penuh fantasi, pemimpi, artistik, lembut, kreatif, mudah terluka perasaannya, sensitif, sering mengawang-awang (mengkhayal), tidak realistik dan eterik.
Putih (White). Orang dengan aura dasar ini memiliki karakteristik umum, yaitu: Transformatif, transenden, spiritual, penyembuh, ketenangan, pencerahan, sensitif, hidup di dimensi yang lebih tinggi, relasi dengan Tuhan yang dominan, sedang dalam kondisi yang kurang fit.
Merah muda bunga mawar. Kasih sayang yang tulus (tanpa pamrih), kelembutan hati dan budi pekerti yang luhur.
Coklat. Pelit dan kecenderungan mementingkan diri sendiri.
Emas. Keluhuran budi, keselarasan dan ciri-ciri yang baik.
Perak. Energi tinggi, sangat berguna, perubahan terus menerus.
Abu-Abu. Kemurungan, rasa takut dan energi yang rendah.
Hitam. Jahat, niat buruk dan culas.
Para peneliti dengan Foto Aura menyimpulkan antara orang yang sehat dengan yang sakit memiliki medan aura, bentuk dan kecerahan warna yang berbeda. Bahkan jika secara fisik dikatakan sehat, namun masih dapat dilihat apakah auranya mengatakan demikian. Karena sebelum kondisi fisik timbul, medan energi atau aura itu sudah memberikan indikasinya.

Aura dan Penggunaannya
Melalui analisis aura, ada beberapa hal yang dapat diketahui dan dapat pula diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu, dalam bidang psikologi dan kesehatan. Untuk rekrutmen pegawai, dapat dilihat kecocokan personalitas dengan bidang pekerjaannya. Sedangkan untuk deteksi kesehatan, analisis aura akan memberikan gambaran kesehatan yang lebih mendalam dari kondisi pasien. Khusus bagi orang-orang yang mendalami olah napas atau tenaga dalam, dapat mengetahui sejauh mana keaktivan 7 pusat energi di badannya, sedangkan bagi orang-orang yang menekuni olah spiritual (meditasi, wirid, dll.) dapat diketahui teknik mana yang benar dan berhasil sesuai apa yang dikehendakinya.

Perbedaan Meditasi Samatha dan Meditasi Vipassana

Perbedaan Meditasi Samatha dan Meditasi Vipassana

Meditasi adalah jalan pintas untuk mencapai pencerahan. Ini kata para guru spiritual. Meditasi, dalam banyak Mtradisi, memang sangat dianjurkan. Terutama dalam Buddhisme.

Ada dua jenis meditasi, pertama Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang.

Ada pandangan yang berbeda di kalangan pengajar meditasi. Ada yang mengatakan bahwa seseorang harus melakukan dan mahir meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu. Baru setelah itu mereka masuk ke meditasi Vipassana Bhavana. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mencapai pencerahan tidak perlu dengan melakukan meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu tapi langsung meditasi Vipassana Bhavana.

Meditasi Samatha Bhavana adalah pemusatan konsentrasi atau perhatian pada objek tertentu, misalnya napas. Ada empat puluh objek yang bisa digunakan untuk menditasi. Napas hanya salah satunya.

Tujuan dari meditasi ini adalah untuk melatih pikiran sehingga terkendali dan akhirnya diam dan hening.Saat kondisi pikiran benar-benar terpusat sangat kuat, hening, diam, dan tercerap sepenuhnya pada objek meditasi maka pada saat itu meditator mencapai kondisi jhana.

Sedangkan meditasi Vipassana Bhavana adalah meditasi perhatian penuh, introspeksi, observasi realitas, kewaspadaan objektif, dan belajar dari pengalaman setiap momen. Inti dari meditasi ini adalah mengamati segala proses mental atau fisik yang paling dominan pada saat sekarang Dengan kata lain, menyadari, mencatat, ingat ketika lenyap.

Saya tidak dalam posisi untuk mengatakan mana atau siapa yang benar. Apakah perlu Samatha dulu baru Vipassana ataukah tidak perlu Samatha tapi langsung Vipassana? Yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini adalah apakah sebenarnya yang terjadi dalam pikiran seseorang yang melakukan meditasi, baik itu Samatha maupun Vipassana, ditinjau dari riset di barat, dengan mengukur pola gelombang otak.

Saat belajar kepada Anna Wise, satu hal yang sangat mencerahkan saya adalah saat Beliau berkata, "Meditation is a state of consciousness, a spesific brain-wave pattern, not a technique". Anna juga berkata bahwa, "There is state of consciousness and content of consciousness".

Wow… ini sungguh suatu pencerahan luar biasa. Anna Wise sampai pada kesimpulan ini setelah mengukur, dengan menggunakan Mind Mirror, begitu banyak pola gelombang otak orang, termasuk para master dan guru meditasi Zen.

Dari pengukuran Anna Wise didapat satu data yang sangat menarik yaitu semua master dan guru meditasi itu punya gelombang otak yang sama. Pola ini disebut dengan pola Awakened Mind (AM) yang terdiri dari beta, alfa, theta, dan delta dengan komposisi yang pas. Beta di sini adalah low beta dan hanya sedikit saja, karena hanya digunakan untuk menyadari, mengetahui, mencatat.

Alfa berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Theta adalah pikiran bawah sadar dan delta adalah pikiran nirsadar.

Kita tetap membutuhkan beta, walaupun hanya sedikit saja, untuk bisa mengetahui atau menyadari apa yang sedang kita alami. Bila tidak ada beta maka kita sama sekali tidak akan tahu atau ingat yang terjadi atau alami saat meditasi.

Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Samatha dan Vipassana?

Meditasi Samatha, bila dilihat dari pola gelombang otak, bertujuan untuk meng-OFF-kan gelombang beta. Beta adalah gelombang pikiran sadar dan berkisar pada kisaran frekuensi 12-25 Hz. Gelombang ini aktif bila kita berpikir, memberikan penilaian (judgement) atau memberikan makna pada sesuatu, mengkritik, membuat daftar, menganalisa, atau berbicara pada diri sendiri (self talk).

High Beta, frekuensi di atas 25 Hz berhubungan dengan stress dan kecemasan. Semakin aktif high beta seseorang maka semakin "liar" pikirannya. Pikiran akan lari ke sana ke mari, melompat dari satu hal ke hal lain, tidak bisa diam, sulit atau hampir tidak mungkin untuk dikendalikan. Kesulitan ini yang dialami oleh semua meditator pemula.

Banyak orang menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk belajar mendiamkan pikirannya mereka namun tidak berhasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti bermeditasi karena tidak merasakan manfaat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat seseorang mahir meng-OFF-kan pikirannya? Ini semua bergantung pada waktu dan teknik yang digunakan. Umumnya, untuk meng-OFF-kan pikiran sadar, orang menggunakan objek napas.

Pikiran dilatih untuk diam dengan cara difokuskan pada napas. Dan pada saat pikiran lari ke objek lain maka pikiran ditarik kembali ke napas dan demikian selanjutnya sampai dicapai kekuatan konsentrasi yang sangat tinggi.

Sulitnya meditator mendiamkan pikirannya, selain karena aktifnya high beta, juga disebabkan tubuh yang tegang. Posisi duduk yang tidak tepat, apa lagi kalau sampai melakukan postur full lotus, membuat otot paha dan tubuh menjadi begitu tegang sehingga adalah tidak mungkin untuk bisa mencapai kondisi pikiran yang rileks. 

Masih berdasar riset Anna Wise, untuk bisa merilekskan pikiran, menurunkan beta dengan cepat, bisa dilakukan dengan merilekskan tubuh terlebih dahulu. Ada teknik spesifik yang Beliau kembangkan untuk bisa mendiamkan pikiran dalam waktu yang sangat singkat.

Saat seseorang telah mampu meng-OFF-kan pikiran sadarnya (gelombang beta) maka pada saat itu ia telah masuk ke kondisi meditatif yang sangat dalam. Jadi, meditasi sebenarnya adalah gelombang otak yang terdiri dari alfa, theta, dan atau tanpa delta. Di sini tampak jelas bahwa beta tidak dibutuhkan untuk meditasi. Justru beta perlu dihilangkan.

Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Vipassana?


Dari pengalaman saya pribadi adalah cukup sulit atau bahkan tidak mungkin bisa melakukan pengamatan pada bentuk-bentuk pikiran, perasaan, atau sensasi fisik yang muncul saat pikiran sadar masih sangat aktif. Apalagi jika yang aktif adalah high beta.

Jelas sangat sulit melakukan pengamatan jika piranti yang digunakan untuk melakukan pengamatan atau observasi, yaitu pikiran sadar, masih sangat aktif dan sibuk sendiri.

Yang diamati dalam meditasi Vipassana, khususnya pada aspek bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang muncul, sebenarnya berasal dari pikiran bawah sadar dan nirsadar.

Dari pikiran bawah sadar biasanya muncul memori atau ingatan mengenai kejadian tertentu, yang berasal dari pengalaman di kehidupan saat ini, dan biasanya berisi muatan emosi dengan intensitas yang tinggi, baik positif maupun negatif.

Jadi, saat memori ini muncul, baik dalam bentuk gambar atau film, maka sebenarnya pada saat yang sama emosi yang berhubungan dengan memori ini juga aktif. Sedangkan dari pikiran nirsadar akan muncul memori dan emosi yang berasal dari kehidupan lampau.

Itulah sebabnya adalah sangat penting bagi seorang meditator untuk tidak masuk ke dalam pengalaman itu, karena biasanya mengandung emosi yang intens, dan cukup hanya mengetahui, menyadari, mencatat, dan mengingatnya ketika lenyap atau hilang.

Meditator tidak larut ke dalamnya. Akan sangat riskan bila meditator masuk ke dalam pengalaman itu, terutama jika pengalaman itu mengandung emosi negatif yang intens, misalnya akibat dari trauma masa lalu.

Jika sampai terjadi hal ini maka meditator akan mengalami kembali kejadian atau pengalaman itu. Istilah teknisnya revivification dan akan berdampak negatif pada kondisi mental dan emosinya.

Kemampuan untuk bisa menjadi pengamat (observer) dan tidak masuk ke dalam objek yang diamati hanya bisa dicapai bila pengendalian diri kita baik dan juga pikiran sadar (baca: beta) tidak terlalu aktif dan tidak memberikan penilaian atau penghakiman.

Saat kita mampu melihat atau hanya menjadi pengamat maka kita telah mampu melakukan disosiasi sehingga tidak dipengaruhi emosi yang melekat pada suatu memori. Saat kita mampu tenang hanya menyadari, mencatat, dan mengingat kejadian atau pengalaman yang muncul, maka kita akan tahu dan sadar bahwa kita bukanlah pengalaman atau emosi kita. Pengalaman atau emosi itu muncul dan tenggelam/hilang. Dan saat kita memberi jarak atau memisahkan diri dari pengalaman atau emosi itu maka mereka tidak bisa mempengaruhi diri kita.

Banyak yang berpikir, "Jika tidak ada beta, lalu bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan insight atau mengerti?"

Insight atau kebijaksanaan yang sesungguhnya berasal dari theta atau pikiran bawah sadar. Kedalamam meditasi ditentukan oleh kedalaman theta yang berhasil kita capai. Theta adalah tempat terjadinya koneksi spiritual paling dalam. Saat seseorang berada dalam deep theta maka ia akan merasakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan yang luar biasa.

Pikiran bawah sadar mempunyai proses berpikir sendiri yang terpisah dari pikiran sadar. Jadi, saat kita bermeditasi Vipassana, saat pikiran sadar yang tidak terlalu aktif, maka informasi atau insight yang berasal dari pikiran bawah sadar akan naik, melalui jembatan alfa, ke pikiran sadar (beta) dan kita menyadari atau tahu (ingat) informasi ini.

Jadi, yang dilakukan oleh meditator yang bertahun-tahun melakukan meditasi Samatha sebenarnya adalah persiapan untuk awakening atau pencerahan. Para meditator ini biasanya, setelah bertahun-tahun berlatih meditasi, berhasil mengembangkan pola gelombang otak Awakened Mind.

Namun meditasi Samatha, walaupun telah lama dilakukan, walaupun telah berhasil mencapai pola Awakened Mind, tidak mampu memfasilitasi pencapaian pencerahan.

Mengapa? Karena meditasi Samatha sebenarnya adalah cara untuk mencapai kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik. Kondisi kesadaran ini selanjutnya perlu ditindaklanjuti dengan melatih meditasi Vipassana karena Vipassana sebenarnya adalah content-based meditation atau meditasi berdasarkan isi.

Yang dimaksud dengan isi, selain sensasi fisik yang dirasakan, juga adalah konten dari pikiran bawah sadar dalam bentuk-bentuk pikiran dan emosi yang muncul, dirasakan, atau dialami pada saat meditasi berlangsung, pada momen here and now.

Contoh yang paling populer adalah koan dalam meditasi Zen. Saat seorang master Zen bertanya pada muridnya, "Bagaimana bunyinya bila tepuk tangan dilakukan hanya dengan satu tangan?", maka pada saat itu sang master memberikan pertanyaan yang tidak bisa dijawab bila si murid hanya menggunakan pikiran sadar atau beta.

Saat berpikir keras untuk menemukan jawabannya maka pikiran murid yang terlatih akan begitu fokus, dan ini sebenarnya adalah meditasi Samatha, akan mendapatkan pemahaman atau pengetahuan, yang berasal dari pikiran bawah sadarnya, yang mampu memfasilitasi tercapainya pencerahan.

Ini bukan meditasi dengan "pikiran kosong". Sebaliknya, ini adalah meditasi dengan konten yang sangat spesifik yang dilakukan oleh praktisi dengan kondisi pikiran yang telah disiapkan dengan sangat baik dan hati-hati sekali, dengan menggunakan teknik yang spesifik.

Pembaca, setelah membaca sejauh ini, jika anda bermeditasi, teknik mana yang akan anda gunakan? Samatha atau Vipassana? Semua saya kembalikan pada diri anda sendiri. Saat bermeditasi kenalilah diri anda sendiri. Anda akan tahu apakah anda akan langsung ke Vipassana ataukah perlu melatih Samatha dulu.

Dan yang paling penting adalah anda perlu belajar di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang berpengalaman. Hanya duduk dan memperhatikan napas memperhatikan pikiran belum tentu bisa disebut meditasi. Meditasi, seperti yang didefinisikan oleh Anna Wise adalah kondisi kesadaran spesifik bukan sekedar teknik.

Jika anda telah melakukan meditasi sekian lama namun belum bisa masuk atau mengalami kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik itu maka meditasi anda bisa dibilang belum berhasil.

Anna Wise pernah membantu seorang kliennya, seorang meditator. Keluhan klien ini adalah walaupun ia telah meditasi Samatha selama 12 tahun non stop, setiap hari 1 jam, ia masih belum bisa masuk ke kondisi meditatif yang dalam.

Saat dilihat pola gelombang otaknya, dengan menggunakan Mind Mirror, tampak bahwa selama 12 tahun meditasi klien ini tidak bisa mendiamkan pikirannya. Hal ini tampak dari high beta yang sangat aktif saat ia melakukan meditasi.

Dengan teknik yang spesifik Anna berhasil membantu klien ini mendiamkan pikirannya sehingga menjadi tenang dan hening dalam waktu yang relatif singkat. Sungguh sayang bila ketekunan selama 12 tahun ini ternyata tidak berbuah hasil seperti yang diinginkan.

Selamat bermeditasi..........

Kamis, 23 Februari 2012

Reiki – A Healing Practice for Stress Relief

Feeling over-stressed? Over-busy? Out of balance? Reiki is a simple, personal healing practice that can offer relaxation and inner peace on a daily basis. More people are learning this self-treatment technique that has many benefits including stress reduction, mental clarity, relief of pain, and improved sleep. Reiki elicits the relaxation response which helps the body and mind to slow down. Reiki works holistically and is easy to learn and incorporate into a busy personal and professional lifestyle. In this webinar, you will learn how Reiki works, the benefits of Reiki, practice-based evidence supporting Reiki, and how to simply incorporate Reiki into your life.

The Reiki Way to Inner Peace A.21 Day Guide Journey

Life doesn’t always turn out the way we plan. We sometimes come to a
point where we need to change the road we are travelling on and move in
another direction.
Reiki is a great tool to use to gently guide you in the direction that is
exactly right for you at this moment. Once again it may not be the direction
you had expected, but if you place your TRUST in Reiki it will
ALWAYS work for your highest good. Reiki can do no harm.
Excerpt from The Reiki Way to Inner Peace. A 21 Day Guided Journey


Hidup tidak selalu mematikan cara kami berencana. Kami kadang-kadang datang ke titik di mana kita perlu mengubah jalan kita bepergian pada dan bergerak dalam arah lain.
Reiki adalah alat yang hebat untuk menggunakan untuk lembut membimbing Anda dalam arah yang tepat untuk Anda saat ini. Sekali lagi tidak mungkin arah yang Anda harapkan, tetapi jika Anda menempatkan kepercayaan Anda pada Reiki itu akan selalu bekerja sama untuk kebaikan tertinggi Anda. Reiki dapat melakukan tidak membahayakan.
Kutipan dari jalan Reiki untuk Inner Peace. 21 Hari dipandu perjalanan (Diterjemahkan oleh Bing)

Selasa, 24 Januari 2012

Mengenal Kelenjar Pineal

Selama ribuan tahun, kelenjar Pineal dikenal sebagai penghubung tubuh manusia dengan alam pikiran yang lebih dalam atau sebuah jendela untuk memasuki dimensi lain.

Namun konsep seperti ini telah memudar seiring dengan berjalannya waktu. Ilmu pengetahuan mulai menaruh perhatian padanya dalam upaya untuk memahami fungsi terpendam dari "mata yang tersembunyi" tersebut.

Beberapa kesaksian dan pengalaman orang menjelang kematian, dimana para pasien melaporkan beberapa perjalanan sementara yang menyenangkan di luar tubuh fisik mereka yang secara klinis (medis) sudah dinyatakan meninggal.

Pada dasarnya organ-organ dalam tubuh manusia telah mengijinkan manusia tersebut untuk mengamati pemandangan di luar tubuh yang tidak dapat dilihat dengah sepasang mata kita.

Seorang profesor anatomi mengungkapkan suatu fakta yang misterius yang belum pernah diulas dalam bidang kedokteran manapun.


Beliau mengatakan bahwa terdapat rahasia di dalam suatu jaringan sel-sel yang sangat kecil dan tersembunyi, namun masih dapat mengontrol pro-ses metabolisme yang vital. jaringan sel tersebut adalah sebuah mata yang tersembunyi, yaitu Mata Ke-tiga. Bayangkan jika terdapat organ penglihatan yang mam-pu melihat dengan jelas ruang-ruang yang ada di luar dunia fisik kita. Makhluk asing apakah yang memiliki kemampuan aneh seperti itu.

Jawabannya adalah umat manusia. Pineal body adalah suatu jaringan kelenjar kecil yang terletak di bagian pusat kepala, yang tidak hanya mampu merasakan adanya cahaya dari luar layaknya sa-ma seperti sepasang mata kita, tetapi strukturnya juga sama dengan mata pada umumnya tetapi dia jauh lebih sederhana.

Kelenjar Pineal melaksanakan sejumlah besar fungsi-fungsi jasmani yang penting, seperti pengembangan seksual, metabolisme dan menghasilkan Melatonin.

Namun para ilmuwan telah menemukan banyak keistimewaan yang ada di dalam kelenjar pineal yang tidak dapat dijelaskan secara sederhana, karena organ ini memiliki struktur yang unik, ilmuwan telah menyimpulkan bahwa ia telah memerankan beberapa fungsi yang tak dapat diketahui sampai sekarang ini.

Ilmu pengobatan modern telah menyatakan bahwa kelenjar yang terletak jauh di bagian dalam pusat otak ini terdiri dari sel-sel yang peka cahaya (photoreceptor cells). Namun pendapat utamanya menyebutkan bahwa keistimewaan ini hanya dapat menguraikan beberapa kemampuan terpendam yang ada pada masa-masa awal evolusi kita.

Menurut pemahaman teori evolusi dari ilmu pengetahuan tentang pineal body, organ ini dulunya merupakan suatu sistem serabut saraf yang tidak teratur, yang terletak di bagian luar permukaan tengkorak kepala, khusus untuk menangkap perubahan-perubahan cahaya dan sebagai sarana penunjang bagi tuannya agar dapat melarikan diri bila diserang pemangsa.

Pemahaman seperti ini memperlihatkan bahwa kelenjar pineal melaksanakan fungsi-fungsi yang sama seperti sepasang mata, hanya saja perbedaannya keberadaannya yang secara aneh menjadi terdesak mundur sampai di bagian dalam tengkorak kepala.

Suatu hipotesa terbaru yang diusulkan David Klein sebagai kepala bidang saraf Endokrin (Neuroendocrinology) pada Lembaga Nasional Pengembangan Kesehatan Anak dan Orang (National Institute of Child Health and Human Development ) NICHD, menyatakan bahwa retina primitif telah terlatih untuk merangkap pekerjaannya, apakah itu untuk menangkap gambar atau untuk menghasilkan Melatonin. Ia percaya bahwa seiring dengan berjalannya waktu, fungsi ini akhirnya telah berpindah tempat ke kelenjar Pineal, suatu organ yang mandiri, sedangkan degenerasi dari retina sebagai penghasil melatonin pada mamalia (binatang menyusui) dapat tetap ada tanpa suatu penjelasan yang masuk akal.

Namun sekarang kelenjar Pineal dikenal sebagai suatu yang baik karena mengeluarkan Endogin, dan tentu saja masih terdiri dari sejumlah sel peka cahaya yang penting, ini adalah suatu proses jasmani yang dikenal secara ilmiah.

Yang mengejutkan adalah apabila sepasang mata ini dipindahkan, dan pada jalur anatomi di bagian depan dari kelenjar ini bila dihadapkan secara langsung ke cahaya, organ ini tetap dapat merespon serta memberikan rangsangan-rangsangan dengan cara yang sama seperti sepasang mata.

Fakta ini telah menyebabkan beberapa para peneliti mempertimbangkan apakah kelenjar Pineal bukan hanya lebih dari sekedar mata yang mengalami degenerasi. Apakah masih banyak proses dalam otak yang belum dapat dimengerti, yang masih tertinggal dalam ruang dari sel-sel yang berbentuk kerucut kecil yang ada dalam kelenjar pineal ini.

Dr. Sergio Felipe de Oliveira, Msc. dari fakultas medis Universitas Sao Paulo dan direktur Klinik Otak Pineal (Pineal Mind Clinic), mengatakan bahwa meningkatnya aktivitas Pineal secara intim berkaitan dengan akti-vitas jasmani seperti penampakan atau meditasi.

Selanjutnya, disamping berbagai fungsi Endogin dari kelenjar pineal (pengendalian hypothalamus, bioritmik dan perlindungan terhadap radikal bebas) juga bertanggung jawab untuk memancarkan N, N-dimethyltryptamine (DMT), yang dikenal oleh beberapa orang sebagai molekul dari roh.

Pembebasan dari molekul ini dianggap sebagai halusinasi yang berasal dari pancaran saraf (hallucinogenic neu-rotransmitter) yang akan meningkat pada waktu tidur, meditasi dalam suatu keadaan tertentu, pengalaman selama menjelang kematian, begitu juga dengan suatu proses seperti membayangkan perencanaan pembangunan pabrik-pabrik.

Orang-orang yang skeptis meragukan perihal kesadaran yang lebih tinggi untuk memasuki taraf dimensi lain, mereka lebih percaya bahwa pengalaman seperti itu adalah fenomena yang dipengaruhi oleh pengaruhi kimia tertentu pada otak. Tetapi mereka kesulitan menjelaskan hubungan antara pembebasan DMT (yang mengakibatkan terjadinya gambar di pineal) dengan pengalaman-pengalaman mendekati kematian.

Seperti yang diketahui oleh Dr. Rick Strassman, yang sudah menyelenggarakan studi-studi secara menyeluruh dan mendalam terhadap efek DMT pada manusia, riset semacam ini diharapkan mulai dapat mengetahui lebih dekat lagi mengenai kelenjar pineal yang tidak lebih dari sekedar mata yang mengalami degenerasi, yang berpindah tempat untuk menghasilkan hormon-hormon, tetapi sebagai sebuah jendela bawaan lahir untuk melihat keberadaan ruang-ruang lain.

Pandangan dari kelenjar pineal ini bukanlah sesuatu yang baru. Hal tersebut sebenarnya telah mewakili cakra keenam dari ajna, seperti yang dibicarakan dalam tradisi Vedic (tradisi India kuno yang ada pada kitab Veda yang ditulis dalam bahasa Sansekerta) bahasa India kuno, jendela dari Brahma yang dikenal dalam agama Hindu, Mata Surga (Mata Ketiga) dalam istilah Tiongkok kuno, tempat istana Niwan seperti yang dikenal oleh pengikut Dao (baca Tao) atau tempat bersemayamnya jiwa menurut Descartes.

Dapatkah sel-sel yang berbentuk kerucut kecil, yang terletak pada pusat otak, melihat dengan jelas tingkat-tingkat alam yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuan.

Dirangkum dari berbagai sumber.

Rabu, 18 Januari 2012

Mengenal REIKI

Reiki sebetulnya ada sejak ia diciptakan oleh Tuhan, tetapi pemanfaatan reiki baru dikenal pada beberapa peradaban sebelum masehi melalui peradaban India, Tibet, China, Mesir, Jepang, bahkan mungkin Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah kita tercinta lainnya.

Yang menjadi masalah ketika jaman tersebut, sistem pengajarannya kurang baik sehingga tidak dapat dikaji, dipelajari, dan dikembangkan lebih lanjut. Ini mudah dilihat dari pola pengajaran kuno dimana untuk mendapatkan pengetahuan yang mungkin sepele, murid harus mengalami ujian yang maha berat. Mungkin maksudnya adalah positif, yaitu agar si murid benar-benar menghargai dan mengamalkan pengetahuan tersebut.

Tetapi dampaknya adalah perkembangannya lambat dan hanya diketahui oleh beberapa gelintir orang, sehingga jika orang tersebut meninggal dan tidak sempat menyebarkannya, maka pengetahuan tersebut menjadi punah dibawa mati.

Singkat cerita, Reiki ditemukan kembali oleh Mr. Mikao Usui secara tidak sengaja. Setelah melatih suatu teknik meditasi tertentu selama 21 hari, maka dia meninggalkan kuil. Dalam perjalanan dia tersandung sehingga kakinya berdarah. Secara naluri dia memegangi kaki yang berdarah tersebut dan dalam beberapa menit pendarahan berhenti dan lukanya sembuh. Setelah itu dia menjumpai sebuah rumah, karena lapar kemudian diberi makan oleh pemilik rumah. baru beberapa suap perutnya sakit karena sudah 21 hari tidak makan tiba-tiba kemasukan makanan. Secara naluri dia memegangi perutnya, setelah sekian menit sakit perutnya sembuh. Selesai makan pemilik rumah bercerita bahwa giginya sangat sakit. Oleh Mr. Mikao Usui kemudian dicoba untuk disembuhkan, yaitu dengan menempelkan tangan pada bagian yang sakit. Setelah beberapa menit, sakit tersebut hilang.

Dari kejadian-kejadian itu, Mr. Mikao Usui mencari tahu penyebabnya. Ini mungkin berbeda dengan pola pikir klenik sehingga menimbulkan takhayul atau pembelokan akidah. Berbagai sumber dipelajari dan berbagai literatur dibuka kembali. karena semangat keilmuannya yang tinggi, maka dia sampai pada satu kesimpulan bahwa dari hasil meditasi selama 21 hari tersebut, pola getaran tubuhnya berubah sehingga bisa menyerap dan mengalirkan energi alam yang sangat halus yang bermanfaat untuk penyembuhan. Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa jika pola getaran energi seseorang diubah sehingga selaras dengan Reiki maka orang tersebut bisa melakukan hal yang sama dengannya. Akhirnya setelah melakukan beberapa riset, dia menemukan teknik untuk merubah pola getaran seseorang sehingga mampu mengakses dan menyalurkan reiki.

Energi Reiki tersedia dialam semesta dalam jumlah yang tidak terbatas. Energi ini biasanya digunakan sebagai energi penyembuhan untuk mengobati segala macam penyakit fisik dan psikis yang diderita oleh manusia, binatang, bahkan tumbuh-tumbuhan. Beberapa kesaksian di seluruh dunia menyatakan bahwa banyak kasus penyakit yang berat, yang secara medis susah untuk disembuhkan, ternyata dengan metode pengobatan ini penyakit tersebut bisa sembuh.

Kasus yang paling gampang dilihat adalah pada saat anak atau cucu mengalami sakit, orang tua atau kakek-neneknya memberikan usapan-usapan tangan yang penuh kasih-sayang dan penuh kepasrahan kepada Tuhan, dan yang terjadi kemudian adalah penyakit si bocah tersebut menjadi sembuh ataupun paling tidak menjadi berkurang. Usapan-usapan tangan tersebut dalam sudut pandang spiritualis adalah penyaluran energi reiki. Mengapa demikian ? Karena energi Reiki mempunyai karakteristik yang sangat khas, yaitu :

1. Reiki mempunyai tingkat getaran yang sangat halus dan mempunyai kualitas energi yang  tinggi.

2. Reiki merupakan energi cerdas, dalam arti penghusada cukup menyalurkan saja yang selanjutnya energi Reiki   akan secara cerdas melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya untuk menyembuhkan penyakit.

3. Reiki tidak dapat digunakan untuk keperluan negatif. Jika kita menggunakannya untuk keperluan negatif maka secara otomatis energi reiki akan berhenti mengalir.

4. Reiki tidak dapat dipaksakan dalam arti hanya dengan kepasrahan penuh kepada Tuhan maka energi Reiki akan mengalir dengan deras dan berfungsi dengan baik.

5. Reiki dengan mudah menetralkan energi negatif yang merusak, termasuk hasil dari magic, dan sangat ampuh untuk melindungi apapun dari pengaruh energi negatif yang merusak.


Manfaat lain Reiki adalah membersihkan cakra dan nadi secara efektif. Penggunaan simbol-simbol tertentu yang berhubungan dengan tujuan pembersihan, sangat efektif dalam pembersihan kotoran pada cakra dan nadi. Dengan menggunakan simbol-simbol Reiki, pembersihan menjadi sangat sederhana dan cepat serta memberikan hasil yang maksimal.

Penggunaan Reiki secara terus menerus akan menyebabkan tubuh praktisi mempunyai getaran lebih tinggi dan halus serta memberikan banyak energi Reiki ke tubuhnya. Kenyataan tentang Reiki akan meningkatkan tingkat spiritual seseorang sehingga lebih dekat kepada Tuhan.

Beberapa manfaat Reiki, diantaranya  :

1. Menyembuhkan penyakit medis dan non medis
2. Membantu proses pembangkitan Kundalini
3. Membersihkan, mengaktifkan, mengembangkan chakra
4. Menjaga tubuh tetap sehat
5. Menghilangkan stress
6. Memperpanjang umur sel tubuh dan menghaluskan kulit
7. Memberikan lebih banyak energi serta meningkatkan getaran energi tubuh
8. Meningkatkan spiritualitas
9. Melindungi dari energi negative